085340316031
admin@staiddipangkep.ac.id
Ihsan sebagai Ruh Akhlak Sosial (Menemukan Hakikat Manusia dalam Spirit Sumpah Pemuda)
Ihsan sebagai Ruh Akhlak Sosial (Menemukan Hakikat Manusia dalam Spirit Sumpah Pemuda)
Wed, 29 October 2025
Opini
559061323_32158306643760726_4639583475029539353_n
Penulis: Abd. Jalil, S.Pd., M.Pd.

Momentum Etis dan Spiritualitas Kebangsaan

Setiap tanggal 28 Oktober, bangsa Indonesia memperingati Hari Sumpah Pemuda sebagai tonggak lahirnya kesadaran kolektif akan identitas kebangsaan. Namun, dalam konteks kekinian, peringatan ini seharusnya tidak hanya dimaknai secara historis-politik, tetapi juga secara etis dan spiritual. Semangat persatuan, perjuangan, dan tanggung jawab sosial yang menjadi inti Sumpah Pemuda sejatinya bersumber pada nilai-nilai akhlak sosial yang luhur. Akhlak bukan sekadar etiket sosial, tetapi merupakan manifestasi hakikat kemanusiaan yang berpijak pada prinsip ihsan—yakni kesadaran kehadiran Allah dalam setiap aspek kehidupan.

Pembentukan manusia sejati tidak dapat dilepaskan dari dimensi akhlak. Rasulullah Saw. bersabda, “Innamā bu‘itstu li utammima makārim al-akhlāq” (Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak yang mulia). Hadis ini menegaskan bahwa inti dari seluruh risalah kenabian adalah penyempurnaan moralitas manusia. Karenanya, penguatan akhlak sosial dalam pendidikan dan kehidupan berbangsa merupakan langkah konkret dalam mewujudkan hakikat manusia yang sejati, yaitu manusia yang sadar akan relasi dirinya dengan Tuhan, sesama, dan alam.

Ihsan sebagai Integrasi Kepribadian dan Kesadaran Ilahiah

Konsep ihsan dalam Islam sering dimaknai sebagai kesempurnaan amal melalui kesadaran spiritual yang mendalam. Dalam Hadis Jibril, Nabi Muhammad Saw. menjelaskan bahwa ihsan adalah “engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya; jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.” Ihsan bukan sekadar kesalehan ritual, tetapi puncak integrasi antara pengetahuan, tindakan, dan kesadaran ruhani. Dengan demikian, manusia yang berihsan tidak hanya bertindak baik karena norma sosial, melainkan karena kesadaran akan kehadiran Ilahi dalam setiap gerak kehidupannya.

Prinsip ihsan inilah yang menjadi dasar akhlak sosial. Dalam konteks pendidikan, nilai ini menuntut pendidik dan peserta didik untuk tidak hanya memahami ilmu secara kognitif, tetapi juga menginternalisasi nilai-nilai ketulusan, tanggung jawab, empati, dan keadilan sosial. Pendidikan yang berlandaskan ihsan melahirkan insan kamil — manusia paripurna yang seimbang antara rasio dan hati, antara dunia dan akhirat, antara diri dan masyarakat.

Pandangan Al-Ghazali tentang Akhlak sebagai Cermin Kesempurnaan Jiwa

Abu Hamid Al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din menegaskan bahwa akhlak merupakan hasil penyucian jiwa (tazkiyah al-nafs) dan pengendalian hawa nafsu melalui latihan spiritual (riyādhah al-nafs). Menurutnya, manusia tidak akan mampu mencapai kebahagiaan sejati kecuali apabila ia mampu mengharmoniskan kekuatan akal, nafsu, dan hati. Bagi Al-Ghazali, pendidikan akhlak harus diarahkan pada pembentukan karakter batin yang stabil, bukan hanya perilaku lahiriah yang tampak sopan di hadapan publik.

Al-Ghazali juga menekankan pentingnya akhlak jama‘i—yakni kesadaran bahwa kebajikan pribadi memiliki implikasi sosial. Seseorang yang jujur, amanah, dan dermawan bukan hanya memperbaiki dirinya, tetapi juga menebarkan kebaikan pada lingkungannya. Akhlak sosial yang berakar pada spiritualitas inilah yang menjadi fondasi bagi terbangunnya masyarakat madani.

Refleksi terhadap pandangan Al-Ghazali sangat relevan dalam momentum Sumpah Pemuda. Ketika para pemuda 1928 menyatukan tekad untuk “bertanah air satu, berbangsa satu, dan berbahasa satu”, sesungguhnya mereka sedang menegakkan nilai-nilai akhlak sosial — kejujuran, tanggung jawab, dan solidaritas. Semangat persatuan itu lahir dari kesucian niat, bukan kepentingan politik semata. Maka, dalam konteks modern, revitalisasi Sumpah Pemuda harus dimulai dari pembersihan hati dan peneguhan akhlak, sebagaimana diajarkan oleh Al-Ghazali.

Pandangan Ibn ‘Arabi tentang Hakikat Manusia sebagai Cermin Tuhan

Sementara itu, Ibn ‘Arabi dalam karya monumentalnya Fusūs al-Hikam dan al-Futūhāt al-Makkiyyah menempatkan manusia sebagai mikrokosmos (al-insān al-kāmil) yang mencerminkan realitas ketuhanan (tajallī al-Haqq). Menurutnya, hakikat manusia adalah manifestasi dari nama-nama Allah (asmā’ al-Husnā). Oleh karena itu, setiap perilaku manusia idealnya menjadi pantulan dari sifat-sifat Ilahi — seperti kasih sayang, kebijaksanaan, dan keadilan. Dengan demikian, akhlak sosial bukan sekadar tuntutan moral, tetapi juga proses ontologis menuju kesempurnaan eksistensi.

Ibn ‘Arabi, hakikat Muhammadiah (al-Haqīqah al-Muhammadiyyah) merupakan bentuk pertama dari ciptaan yang paling dekat dengan cahaya Ilahi. Dari hakikat inilah seluruh wujud alam semesta memancar dan memperoleh cahayanya masing-masing sesuai kapasitasnya. Analogi ini memberi pemahaman bahwa setiap manusia memiliki potensi untuk memantulkan cahaya Ilahi, sejauh ia mampu menyucikan dirinya dari kegelapan nafsu dan ego.

Jika kita menempatkan gagasan ini dalam konteks kebangsaan, maka para pemuda Indonesia dapat dilihat sebagai “penyambung cahaya Ilahi” dalam kehidupan sosial—yakni pembawa nilai kasih, keadilan, dan kebenaran. Sumpah Pemuda dengan demikian dapat dimaknai sebagai tajallī sosial-spiritual, ketika kesadaran ketuhanan diwujudkan dalam bentuk persatuan, kepedulian, dan perjuangan bersama.

Pendidikan Akhlak sebagai Jalan Transformasi Sosial

Pendidikan Islam, menurut kedua pemikir besar ini, tidak hanya bertujuan mencerdaskan akal, tetapi juga mencerahkan hati. Al-Ghazali menekankan proses tazkiyah dan ta’dib, sementara Ibn ‘Arabi menegaskan pentingnya ma‘rifah—pengetahuan intuitif tentang Tuhan yang menggerakkan kesadaran moral. Dalam konteks Indonesia modern, hal ini bermakna bahwa pendidikan harus menjadi medium pembentukan manusia beradab (insan berakhlak mulia) yang mampu menyeimbangkan spiritualitas dan rasionalitas dalam mengelola kehidupan sosial.

Pemuda Indonesia hari ini menghadapi tantangan baru: individualisme, hedonisme, dan krisis identitas. Dalam situasi ini, relevansi nilai ihsan, ajaran Al-Ghazali tentang pembersihan jiwa, dan pandangan Ibn ‘Arabi tentang manusia sebagai cermin Tuhan menjadi sangat penting. Pendidikan akhlak sosial perlu dihidupkan kembali di setiap lembaga pendidikan agar pemuda tidak kehilangan arah spiritual di tengah derasnya arus globalisasi.

Refleksi Sumpah Pemuda sebagai Spirit Ihsan Kolektif

Momentum Sumpah Pemuda harus menjadi ruang refleksi nasional untuk menegaskan kembali komitmen moral dan spiritual bangsa. Semangat “bertanah air satu, berbangsa satu, dan berbahasa satu” dapat dimaknai sebagai manifestasi ihsan kolektif—yakni kesadaran bersama bahwa kebinekaan Indonesia adalah wujud dari kasih sayang dan kehendak Ilahi. Persatuan bukan sekadar kesepakatan politik, tetapi bentuk pengabdian spiritual kepada Tuhan melalui pengabdian terhadap sesama.

Perspektif akhlak sosial, sumpah itu bukan hanya janji di lisan, tetapi komitmen moral yang harus diwujudkan dalam tindakan. Pemuda masa kini dituntut untuk menjadi insan berjiwa ihsan—yang berpikir kritis, berakhlak mulia, dan berorientasi pada kemaslahatan publik. Hanya dengan cara itulah cita-cita kemerdekaan, keadilan, dan kemanusiaan dapat diwujudkan secara utuh.

Dari Spirit Sufistik menuju Etika Kebangsaan

Baik Al-Ghazali maupun Ibn ‘Arabi menempatkan akhlak sebagai puncak perjalanan spiritual manusia. Akhlak sosial, dalam konteks kebangsaan, adalah jalan menuju penyempurnaan diri sekaligus peradaban. Ketika manusia berbuat baik bukan karena pamrih, melainkan karena kesadaran Ilahi, maka ia telah mewujudkan hakikat dirinya sebagai khalifah fil-ardh. Pada akhirnya, refleksi Sumpah Pemuda bukan hanya mengenang sejarah, tetapi meneguhkan kesadaran etis dan spiritual bangsa. Pemuda hari ini perlu meneladani spirit ihsan Nabi, kebijaksanaan Al-Ghazali, dan kedalaman metafisik Ibn ‘Arabi untuk melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga berjiwa luhur, berakhlak sosial, dan berjiwa persatuan. Pengetahuan akhlak sosial bukan sekadar wacana moral, tetapi menjadi strategi spiritual dan pendidikan bangsa untuk mewujudkan hakikat manusia yang seutuhnya, manusia yang mengenal Tuhan, mencintai sesama, dan menjaga harmoni alam ciptaan-Nya.

Opini

Artikel Lainnya

STAI DDI Pangkep Gelar...
Pangkep – STAI DDI Pangkep menyelenggarakan Rapat Koordinasi secara daring melalui Zoom Meeting pada Hari/Tanggal, 11 Juli 2026, pukul 14.00...
Mon, 13 July 2026 | 1:55
Asesmen Lapangan LAMDIK Jadi...
Pangkep – Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) STAI DDI Pangkep melaksanakan Asesmen Lapangan (AL) sebagai bagian dari proses...
Thu, 2 July 2026 | 10:48
Matangkan Persiapan Akreditasi, Prodi...
PANGKEP – Dalam rangka meningkatkan mutu penjaminan kualitas pendidikan tinggi, Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) Sekolah Tinggi Agama...
Thu, 18 June 2026 | 11:36
Delapan Dosen STAI DDI...
*Pangkep* – Sebanyak delapan dosen Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) DDI Pangkep mengikuti Program Peningkatan Keterampilan Dasar Teknik Instruksional (PKDP)...
Mon, 15 June 2026 | 12:21