6285299928382
admin@staiddipangkep.ac.id
Usla sebagai Jiwa Spritualitas Guru
Usla sebagai Jiwa Spritualitas Guru
Tue, 25 November 2025
Opini
558690256_32122960970628627_3580024219310511346_n
Penulis: Abd. Djalil, S.Pd., M.Pd.

Dunia pendidikan yang semakin pragmatis, peran guru tidak lagi cukup hanya sebagai pengajar materi pelajaran. Guru dituntut menjadi penjaga moral, pembimbing batin, serta penuntun arah hidup peserta didik. Pada titik inilah konsep Usla hadir sebagai inti kebijaksanaan seorang guru. Usla dipahami sebagai kesadaran batin yang menuntun seseorang pada nilai kebenaran, cinta, dan keseimbangan antara spiritualitas dan keduniawian. Bagi seorang guru, Usla bukan hanya wawasan, melainkan energi yang menghidupkan setiap nasihat, keputusan, dan teladan yang mereka berikan.

Usla dalam konteks pendidikan menjadi fondasi penting agar guru mampu melihat anak didik sebagai manusia seutuhnya, bukan sekadar objek yang harus diisi pengetahuan, keterampilan dan sikap. Guru yang ber-Usla hadir dengan kejernihan hati, mampu menempatkan diri secara adil, dan memahami bahwa setiap anak memiliki fitrah serta potensi unik yang perlu diasah dengan kasih sayang. Nilai cinta di sini menjadi bagian utama dari Usla, cinta yang bukan sentimental, tetapi cinta yang berakar pada keikhlasan untuk memanusiakan manusia. Guru yang menanamkan cinta seperti ini akan mengajar tidak hanya dengan kata-kata, tetapi juga dengan keteladanan dan kesabaran.

Al-Ghazali memberikan landasan filosofis yang kuat untuk memahami Usla sebagai jiwa kebijaksanaan guru. Dalam karya-karyanya, Al-Ghazali menekankan bahwa ilmu tanpa akhlak adalah kegelapan. Baginya, hati adalah pusat pengenalan kebenaran, dan pendidikan sejati harus dimulai dengan pembersihan hati. Jika hati bersih, maka pengetahuan akan mengalir menjadi hikmah, sebaliknya, jika hati keruh oleh ambisi duniawi, maka ilmu hanya menjadi alat untuk kesombongan. Konsep ini sejalan dengan Usla yang menempatkan kejernihan batin sebagai syarat utama lahirnya kebijaksanaan.

Al-Ghazali juga menegaskan pentingnya mahabbah sebagai pendorong utama dalam proses pendidikan dan pencarian ilmu. Cinta kepada Allah swt., memurnikan niat, sementara cinta kepada sesama melahirkan empati dan lembutnya bimbingan. Seorang guru yang berlandaskan Usla akan menjadikan cinta sebagai ruang tumbuh bagi peserta didik. Ia tidak mendidik dengan ketakutan, melainkan dengan kasih yang membebaskan. Cinta inilah yang membuat guru mampu merangkul anak-anak yang lambat memahami pelajaran, memberikan ruang bagi yang gelisah, dan menyapa dengan penuh hormat mereka yang sering dianggap bermasalah.

Pandangan Al-Ghazali tentang kebijaksanaan lahir dari perpaduan antara ilmu (‘ilm), akhlak, dan hati yang berhubungan dengan Tuhan. Guru yang memiliki Usla memadukan ketiganya, ia cerdas secara intelektual, tulus dalam akhlak, dan jernih dalam orientasi batinnya. Di tengah godaan dunia pendidikan modern yang sering terjebak pada angka, ranking, dan pencapaian akademik, Usla mengingatkan kita bahwa tugas utama guru adalah membentuk manusia yang berkarakter—bukan sekadar manusia yang pandai.

Usla sebagai jiwa kebijaksanaan guru mengajak kita untuk kembali pada esensi Pendidikan, menghidupkan jiwa, menguatkan moral, dan menanamkan cinta. Guru yang ber-Usla akan menjadi lentera bagi generasi muda, bukan hanya lewat pengajaran, tetapi melalui keteladanan yang berakar pada spiritualitas mendalam dan kecintaan kepada kemanusiaan. Pendidikan seperti inilah yang menyucikan hati, menguatkan nilai, dan membangun peradaban yang penuh hikmah.

Opini

Artikel Lainnya

Ihsan sebagai Ruh Akhlak...
Penulis: Abd. Jalil, S.Pd., M.Pd. Momentum Etis dan Spiritualitas Kebangsaan Setiap tanggal 28 Oktober, bangsa Indonesia memperingati Hari Sumpah Pemuda...
Wed, 29 October 2025 | 2:06
Wisuda STAI DDI Pangkep...
Wisuda STAI DDI Pangkep Angkatan XII Tahun Akademik 2024/2025 Pada hari Minggu, 12 Oktober, Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) akan...
Sun, 12 October 2025 | 5:53
Air Mata sebagai Protes...
Penulis: Abdul Djalil, S.Pd., M.Pd. Fenomena air mata dalam ruang akademik bukanlah hal yang sering terjadi, terlebih pada momentum resmi...
Fri, 19 September 2025 | 1:34
Kurikulum Cinta, Ekoteologi, dan...
Penulis: Abd. Jalil, S.Pd., M.Pd. Di tengah derasnya arus globalisasi dan kemajuan teknologi, masyarakat modern justru mengalami krisis identitas dan...
Fri, 25 July 2025 | 7:53