
Di tengah derasnya arus globalisasi dan kemajuan teknologi, masyarakat modern justru mengalami krisis identitas dan nilai. Pendidikan kian terjebak dalam logika kompetisi, dan relasi sosial semakin kering dari empati. Padahal, dalam pandangan Islam, pondasi kehidupan manusia adalah cinta. Cinta tidak hanya menjadi emosi, melainkan kekuatan eksistensial yang menghubungkan manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam semesta. Al-Qur’an menyebut rahim—akar dari kata rahmah—sebagai simbol kasih sayang Ilahi dan sumber kehidupan manusia. Inilah yang melahirkan ide tentang kurikulum cinta, yaitu pendidikan yang menumbuhkan manusia berkeadaban melalui penguatan aspek afektif dan spiritual.
Dalam perspektif filsafat Islam, cinta (mahabbah) bukan sekadar afeksi biologis, melainkan puncak realisasi eksistensi manusia. Ibn Arabi menyebut bahwa cinta adalah al-asl al-kulli—pokok dari segala sesuatu. Cinta menjadi dasar terciptanya alam dan menjadi sarana manusia menuju Tuhan. Manusia yang mampu mencintai secara murni dan universal adalah manusia yang telah mencapai derajat tertinggi dalam tangga spiritual. Inilah yang disebut oleh para sufi sebagai al-insan al-kamil—manusia sempurna—yang kemuliaannya terletak pada kemampuan mencintai dengan penuh kejujuran dan keikhlasan.
Dalam konteks budaya lokal, nilai-nilai cinta sejati itu juga hadir dalam falsafah Bugis. Salah satu nilai luhur yang dipegang teguh adalah lempu’, yakni kejujuran dalam berpikir, berkata, dan bertindak. Lempu’ bukan sekadar nilai etika, tetapi menjadi sistem kepercayaan sosial yang menopang tata kehidupan masyarakat. Seorang yang lempu’ bukan hanya dianggap terhormat secara sosial, tetapi juga dekat dengan Tuhan. Dalam pepatah Bugis, “lempu’ mapaja, mappoji gau’”—orang jujur itu bersinar, dan perbuatannya menjadi suluh dalam kegelapan.
Di sinilah kurikulum cinta dan ekoteologi dapat dikontekstualisasikan. Kurikulum cinta mengajarkan bahwa kejujuran, kasih sayang, dan kepedulian terhadap sesama serta alam merupakan bentuk cinta yang membumi. Sedangkan ekoteologi mengajarkan bahwa cinta kepada Tuhan harus terwujud dalam kepedulian terhadap lingkungan dan makhluk hidup lainnya. Islam tidak memisahkan antara dimensi spiritual dan ekologis. Menyayangi alam berarti merawat amanah Ilahi. Dalam Islam, manusia adalah khalifah yang ditugaskan bukan untuk mengeksploitasi, melainkan menjaga dan memakmurkan bumi.
Filosofi Bugis pun mengajarkan harmoni ekologis ini. Dalam Lontaraq—naskah kuno masyarakat Bugis—terdapat ajaran tentang pentingnya menjaga hubungan dengan alam sebagai bentuk ketaatan kepada Tuhan dan leluhur. Hutan, sungai, dan laut dianggap memiliki jiwa dan dihormati dalam ritus-ritus adat. Nilai-nilai seperti ini sangat relevan dalam membangun paradigma pendidikan ekoteologis yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian materi, tapi juga pada keberlanjutan kehidupan.
Lebih jauh, cinta dalam filsafat keislaman bukan hanya hubungan antar manusia, tetapi juga bentuk keagungan manusia di hadapan Tuhan. Al-Ghazali menulis bahwa puncak ibadah bukan rasa takut atau harapan, tetapi cinta kepada Allah yang melahirkan kedekatan spiritual (qurb). Dengan cinta, manusia tidak hanya beriman secara formal, tetapi juga menjalani kehidupan dengan nilai-nilai luhur. Cinta membuat manusia bertanggung jawab, jujur, penyayang, dan berani menegakkan kebenaran. Inilah bentuk cinta yang menghasilkan peradaban mulia.
Maka, membangun masyarakat modern yang beradab tidak cukup hanya dengan pendekatan teknologi dan hukum. Diperlukan pendekatan spiritual dan kultural yang berakar pada nilai-nilai luhur seperti lempu’. Pendidikan—baik formal maupun non-formal—harus mengintegrasikan dimensi cinta sebagai rahim kehidupan, nilai kejujuran sebagai pilar karakter, dan kesadaran ekologis sebagai tanggung jawab sosial. Inilah hakikat kurikulum cinta dan ekoteologi yang ditawarkan sebagai landasan pembentukan masyarakat rahmatan lil ‘alamin.
Akhirnya, jika bangsa ini ingin membangun peradaban modern yang tidak tercerabut dari akar spiritual dan budaya lokal, maka nilai cinta dan lempu’ harus menjadi dasar berpikir dan bertindak. Dalam cinta ada kejujuran, dalam kejujuran ada kemuliaan, dan dalam kemuliaan terdapat cahaya Tuhan. Sebagaimana dalam filsafat Bugis: Ade’ lempu’ na getteng, malempu’ ri alempureng—kejujuran dan keteguhan adalah kunci kekuatan sejati dalam hidup.